Terapi Sel Punca di Indonesia Terhambat Standar Pelayanan

Gerbang Banten – Kepala UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM-FKUI Ismail HD mengatakan pengembangan terapi stem cell atau sel punca bisa membawa harapan besar bagi dunia medis di Indonesia. Hal ini mengingat tingginya jumlah kasus penyakit degenaratif di dalam negeri.

“Di Indonesia, penerapan sel punca sangat potensial,” kata Ismail di Indonesian Medical and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada Rabu (11/10/2017).

Sel punca dikenal sebagai sel induk yang menjadi asal dari segala jenis sel di tubuh manusia. Ismail menjelaskan, sel punca memiliki ciri-ciri bisa membelah diri dan memperbaharui diri. Sel punca bisa melahirkan 200 calon sel baru.

Namun, pengembangan terapi sel punca di Indonesia masih menghadapi hambatan belum adanya standar pelayanan untuk penanganan medis semua jenis penyakit degeneratif. Misalnya, tidak ada ketentuan jelas soal banyaknya sel punca yang bisa disuntikkan untuk penanganan pada beragam penyakit berbeda.

Karena itu, menurut Ismail, Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) telah mengajukan revisi terhadap Permenkes No. 833 dan 834 tentang sel punca.

“Nanti dibagi jadi dua, standar untuk penelitian dan pelayanan,” katanya.

Dia berpendapat standar pelayanan yang diajukan minimal seharusnya sudah mengantongi izin dari bidang uji masing-masing, organisasi profesi dan sumber daya manusia mencukupi. Sementara untuk standar penelitian terhadap sel punca, minimal instansi terkait harus sudah memiliki persetujuan etik dan cara uji klinis yang baik untuk melakukan riset.

Sampai saat ini, baru ada dua rumah sakit penerima mandat Kementerian Kesehatan dalam pengembangan sel punca, yakni RSCM dan RSUD Dr. Soetomo. “Selain itu, ada 9 rumah sakit di daerah juga, tapi dua itu pengampunya,” ujar Ismail.

Tantangan lain yang dihadapi RSCM dalam pengembangan terapi sel punca adalah mahalnya biaya untuk penelitian. “Karena mahal, jadi semua sendiri-sendiri, tidak ada keseragaman,” katanya.

Saat ini, RSCM sedang berusaha meningkatkan fasilitas untuk pelayanan, penelitian dan penyimpanan sel punca. Salah satunya dengan meningkatkan fasilitas Laboraturium Kultur untuk produksi sel punca, yakni semula manual akan dibuat robotik.

“Dana kami dapat dari hibah dan beberapa dari perusahaan swasta,” kata Ismail. “Tahun ini kami dapat hibah dari Kemenristekdikti sebanyak 4.3 miliar.”

Sejak tahun 2007, UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM telah melakukan penelitian terkait sel punca. Hingga kini sudah sebanyak 214 pasien berhasil disembuhkan dengan terapi sel punca.

“Pasien pertama itu sakit jantung koroner dan berhasil,” kata Anggota Pengembangan Tim Sel Punca RSCM-FKUI, Cosphiadi Irawan.

Selain itu, pasien dengan kasus gagal jantung, patah tulang, bagian tulang yang hilang akibat kecelakaan, pengapuran sendi lutut, luka bakar dan cedera syaraf tulang belakang.

Namun, menurut Cosphiadi, belum adanya standar pelayanan terhadap penanganan pasien dengan terapi sel punca menjadi tantangan. Standar pelayanan medis dengan terapi sel punca baru ada untuk sebagian kecil jenis penyakit. Misalnya, untuk syaraf tulang belakang yang lumpuh total.

Akibatnya, jaminan BPJS tidak menanggung biaya pasien yang menggunakan terapi sel punca karena belum ada standar pelayanan. Padahal biaya yang dikeluarkan pasien lumayan mahal sebab harga setiap sel bisa Rp0.4 sampai Rp0.6.

“Bergantung pada penyakitnya apa. Diabetes perlu 100 juta sel punca, kalau lutut 10 juta sel,” ujar Cosphiadi.(irna)

 

Sumber : Tirto.id

Bagikan di Media Sosial mu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.