Melawan Tradisi Lonjakan Harga Pangan saat Lebaran

Gerbang Banten – Tradisi lonjakan harga pangan atau kebutuhan pokok selalu menjadi pembahasan yang tak berujung setiap tahunnya, silih berganti harga komoditas strategis naik turun bak roller coaster.

Tak pelak cerita mahalnya harga berbagai kebutuhan pokok selalu menjadi sajian informasi masyarakat saat jelang hingga Lebaran tiba.

Begitu juga dengan pemerintah, tak hanya dipusingkan oleh persiapan arus mudik semata, persoalan harga pangan juga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan setiap tahunnya dan bukan hanya menjadi ajang pencitraan semata.

Tradisi yang sudah melekat yakni melonjaknya harga pangan saat hari-hari besar keagamaan ternyata bukan saja tugas pemerintah semata, melainkan juga seluruh pihak termasuk petani, pedagang, pengusaha hingga aparat penegak hukum.

Jika seluruh pemangku kepentingan dalam rantai bisnis pangan nasional itu bersinergi, bukan tak mungkin tradisi harga pangan yang melonjak saat Lebaran hanya tinggal kenangan semata untuk anak cucu kemudian hari.

Sinergitas Kunci Utama

Ada yang berbeda dengan penanganan masalah harga pangan saat Lebaran yang telah berlalu, pemerintah mulai membangun sinergitas antar kementerian maupun lembaga negara.

Tidak hanya kalangan pembuatan kebijakan, pemerintah juga melibatkan petani, pedagang, pengusaha, pelaku industri, hingga aparat penegak hukum.

Hasilnya, tak sedikit yang merasakan harga pangan saat Lebaran kemarin relatif stabil walaupun masih ada kenaikan-kenaikan kecil yang menghampiri beberapa komoditas strategis.

Padahal seperti pada tahun-tahun sebelumnya pasar-pasar tradisional maupun ritel modern tetap dipenuhi oleh masyarakat yang membeli kebutuhan untuk Lebaran.

Tetapi tingginya permintaan konsumen tak serta merta membuat melambungnya harga pangan.

Bahkan, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengaku senang, namun, belum puas atas pencapaian pemerintah dalam menjaga stabilisasi harga dan pasokan pangan hingga ibu-ibu rumah tangga pun tersenyum.

“Masa-masa yang tidak normal telah kita lalui dan ibu-ibu sudah bisa tersenyum kemarin. Sekali lagi ini karena kerja keras kita semua,” kata Mendag.

Menurut dia, hal itu merupakan hasil kerja sama dari seluruh kementerian lembaga. Kemudian dari Kepolisian, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Badan Urusan Logistik (Bulog) dan media.

“Kita bisa kendalikan harga dan tentu dengan pasokan yang ada dampaknya inflasi kita terendah,” kata Mendag.

Bukan tanpa alasan Mendag menyebut terkendalinya harga pangan saat Lebaran lalu berkat seluruh pihak.

Seperti pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang diinisiasi olek Kepolisian Republik Indonesia yang berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pertanian (Kementan), KPPU dalam mengawasi tata niaga pangan nasional secara ketat dan tegas.

Melibatkan Peran Industri, Pedagang, dan Petani

Tetapi dibalik pengetatan dan pengawasan jalur distribusi pangan oleh penegak hukum, ada juga keterlibatan pelaku usaha mulai dari industri, petani dan pedagang pasar yang mampu menjalankan instruksi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan.

Seperti kepastian berbagai kebutuhan pokok atau yang dikenal dengan sembako tersedia dengan baik dan tidak terjadi kekurangan di pasaran yang menyebabkan kenaikan harga.

Salah satunya, kerja sama antara Kemendag dengan empat asosiasi, yaitu Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), dan Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) serta Perum Bulog.

Berkat sinergi dan komunikasi yang masif akhirnya psikologi pasar bisa dikendalikan pemerintah sedikit demi sedikit dengan menjaga ketersediaan ditingkat hulu atau produsen dan memastikan distribusi pangan berjalan lancar di tingkat hilir atau konsumen.

Akibatnya angka inflasi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juni 2017 sebesar 0,69 persen.

Mendag Enggartiasto Lukita mengakui optimistis ke depan Indonesia akan mampu menahan laju inflasi terutama dari sektor pangan.

“Kita harus bisa menahan laju inflasi, karena negara-negara lain bisa, kenapa kita tidak bisa, apalagi masa-masa yang tidak normal (Ramadhan-Lebaran) telah kita lalui,” kata Mendag Enggartiasto setelah melakukan halal bihalal di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada hari selasa.

Menurut Mendag, angka inflasi bulan Juni yang di bawah 1 persen akan memberikan dampak positif pada perekonomian, seperti pendapatan masyarakat yang tidak tergerus hingga tingkat bunga utang pemerintah.

“Kalau inflasi tinggi maka kita harus bayar bunga lebih tinggi, demikian juga dengan pendapatan masyarakat tidak tergerus dengan inflasi,” ujarnya.

Kendati mampu menahan laju inflasi saat Ramadhan hingga Lebaran 2017 dirinya mengaku belum puas atas pencapaian tersebut.

Dengan itu, pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas harga komoditas strategis maupun pasokan agar tidak terjadi gejolak harga yang berpengaruh pada laju inflasi.

Tata Niaga Beras

Salah satunya, yang akan diperbaiki adalah tata niaga beras nasional, pemerintah bersama dengan pengusaha perberasan nasional akan bersinergi membangun sistem data terkait produksi, kebutuhan, hingga stok beras demi menjaga kestabilan harga beras yang menjadi pangan pokok masyarakat Indonesia.

Mendag meminta kepada pengusaha perberasan agar mendaftarkan usahanya kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Hal itu dilakukan agar, data beras nasional baik produksi, kebutuhan, hingga stok yang disimpan di gudang akan lebih akurat.

“Jadi pengusaha terdaftar dan gudang terdaftar, dan posisi stok dilaporkan dan diupdate, dan ini menjadi kepentingan bersama pemerintah dan pengusaha. Sehingga ini semua akan lebih tertata dengan baik,” paparnya.

Satgas Pangan Dipertahankan

Adanya Satuan Tugas (Satgas) pangan diklaim mampu meredam gejolak harga pangan saat Ramadhan hingga Lebaran 2017.

Pengawasan yang ketat di jalur distribusi hingga tingkat produsen membuat harga pangan relatif stabil pada Lebaran 2017.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menungkapkan, keberadaan Satgas pangan masih diperlukan untuk mengawasi agar tidak terjadi penyelewengan baik pasokan maupun harga pangan.

“Saya tegaskan Satgas pangan masih kami butuhkan. Satgas Pangan akan terus jalan,” tegas Mendag di kantor Kemendag, Jakarta Pusat,pada hari selasa.

Kepala Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan, pihaknya akan terus melakukan monitoring tata niaga pangan meskipun periode Ramadhan hingga Lebaran telah usai.

“Satgas ingin amankan dari hulu ke hilir. Kita tahu tata niaga yang berlangsung saat ini sudah jalan sekian puluh tahun tapi ada hal-hal yang kalau boleh dikatakan belum ada distribusi keuntungan yang wajar,” ujar Setyo.

Dengan stabilnya harga pangan pada Lebaran yang telah belalu juga membuat pencapain positif lainnya yakni adanya kenaikan nilai tukar petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) nasional pada bulan Juni 2017 naik 0,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

NTP nasional pada bulan Mei sebesar 100,15 sementara bulan Juni menjadi 100,53. Artinya nilai pendapatan yang didapatkan oleh petani lebih besar ketimbang belanja rumah tangga petani.

Hal ini menunjukan adanya efisiensi pada rantai distribusi pangan yang terjadi pada Ramadhan hingga Lebaran lalu.

Di satu sisi konsumen mendapatkan harga yang wajar, di sisi lain produsen atau petani mendapatkan keuntungan yang lebih.

Dengan itu, pekerjaan rumah pemerintah selanjutnya adalah menjaga kestabilan harga pada saat hari-hari besar keagamaan menjadi tradisi baru, bukan tradisi lama yang kembali dan terus berulang seperti kisah sinetron yang tak berujung.(irna)

Sumber : Kompas.com

Bagikan di Media Sosial mu

2 komentar pada “Melawan Tradisi Lonjakan Harga Pangan saat Lebaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *